Peringatan Maulid Nabi Muhammad ï·º merupakan salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk kembali mengingat sosok manusia agung yang menjadi teladan sepanjang zaman. Di lingkungan pesantren, maulid biasanya dirayakan dengan pembacaan shalawat, sirah Nabi, mahalul qiyam, ceramah, hingga berbagai kegiatan keagamaan. Semua itu tentu memiliki nilai positif. Namun, ada satu persoalan yang patut direnungkan: jangan-jangan dalam kemeriahan memperingati Maulid Nabi, ada hal-hal substansial yang justru sering dilupakan oleh santri.
Hal pertama yang sering dilupakan adalah bahwa mencintai Nabi tidak berhenti pada memperbanyak shalawat, tetapi harus berlanjut pada meneladani akhlaknya. Santri mungkin begitu bersemangat mengucapkan Allahumma shalli ‘ala Muhammad, tetapi setelah acara selesai masih mudah marah, merendahkan teman, berkata kasar, atau tidak menghormati guru. Padahal, ukuran kecintaan kepada Nabi semestinya terlihat dalam perubahan perilaku. Shalawat seharusnya tidak hanya menggerakkan lisan, tetapi juga menggerakkan akhlak.
Kedua, santri terkadang lupa bahwa Nabi Muhammad ï·º bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diikuti. Kita mengenal nama beliau, nasab beliau, mukjizat beliau, bahkan hafal banyak kisah tentang beliau. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: sudahkah cara beliau berbicara memengaruhi cara kita berbicara? Sudahkah kesabaran beliau memengaruhi cara kita menghadapi masalah? Sudahkah kejujuran beliau menjadi prinsip dalam kehidupan kita?
Ketiga, Maulid sering kali berhenti sebagai ritual tahunan, bukan momentum perubahan diri. Setelah bulan Maulid berlalu, semangat mencintai Nabi pun perlahan kembali surut. Padahal, kecintaan kepada Rasulullah ï·º tidak mengenal musim. Maulid seharusnya menjadi titik evaluasi: sejauh mana kehidupan seorang santri semakin dekat dengan sunnah, adab, ilmu, dan akhlak Rasulullah ï·º.
Keempat, santri juga dapat lupa bahwa perjuangan Nabi tidak lahir dari kenyamanan. Rasulullah ï·º menghadapi penolakan, penghinaan, kelaparan, ancaman, dan berbagai kesulitan ketika menyampaikan risalah. Karena itu, ketika seorang santri menghadapi tugas berat, hafalan yang sulit, disiplin pesantren, atau proses belajar yang melelahkan, semestinya ia melihat kesulitan tersebut sebagai bagian dari proses pembentukan diri. Jangan sampai kita mengaku mencintai Nabi, tetapi sedikit kesulitan saja membuat kita mudah menyerah.
Kelima adalah melupakan tujuan utama pendidikan Nabi: membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak. Santri jangan hanya mengejar kepandaian membaca kitab, menguasai bahasa Arab, atau memperoleh nilai tinggi, tetapi kehilangan adab kepada guru, orang tua, teman, dan masyarakat. Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan ruhnya.
Maka, Maulid Nabi semestinya tidak hanya membuat kita bertanya, “Seberapa meriah kita memperingatinya?”, tetapi juga, “Seberapa jauh kehidupan kita mencerminkan keteladanan beliau?”
Sebab, Maulid yang paling indah bukan hanya ketika lisan kita ramai bershalawat, melainkan ketika setelah Maulid akhlak kita menjadi lebih baik, hati kita semakin lembut, ilmu kita semakin bermanfaat, dan kehidupan kita semakin dekat dengan jalan Rasulullah ï·º.

0 Komentar