Menurut Rasulullah SAW, bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat spesial karena merupakan bulan penuh berkah, di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang penuh ampunan, dan waktu diturunkannya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an) yang wajib dimanfaatkan umat Muslim untuk meningkatkan ketakwaan. Keutamaanya meliputi pelipatgandaan pahala, malam Lailatul Qadar, serta sarana penyucian jiwa dan pelebur dosa melalui puasa serta sedekah.
Dalam menyambut bulan suci, banyak diantara umat muslim yang akhirnya berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan demi kebaikan tatkala melaksanakan ibadah Puasa, namun perlu kita pahami sebuah konsep dasar yang sering kali kita lupa. Menurut Agus. Muhammad Mutawakkil Alallah Kafabih, S.PSi, M.Ag atau Gus Kafabih (Pengasuh Pesantren Faidul Mafahim) Tuhan yang hari ini kita sembah dengan intensitas lebih intim adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan di bulan-bulan lalu, dimana kita kerap lalai tak mempedulikanNya ketika kita berbuat dosa.
Tuhan yang dibulan penuh ampunan ini kita spesialkan adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan yang selain bulan Ramadhan, kita sepertinya biasa saja dalam bersikap kepadaNya. Bukan kesalahan ketika seorang manusia memanfaatkan dengan sebaik-baiknya atau dalam istilah Jawa disebut "aji mumpung" dalam setiap proses menjalani kehidupan dengan tujuan mendapatkan Ridho Allah SWT. Yang perlu ditekankan adalah pemahaman bahwa bulan Ramadhan ini jangan sampai kita asumsikan sebagai bulan khusus kita memanjatkan doa-doa dan memohon ampunanNya.
Bulan Ramadhan akan benar-benar kita raih hikmahnya ketika segala kebaikan dan kespesialan bulan ini kita dijadikan sebagai wujud penumbuhan iman yang disana terselip sebuah niat untuk menjaganya agar tetap setara meskipun waktu membawa kita melangkah di bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan ini. Apalagi jika nantinya kita bisa meningkatkan kualitas iman kepada Allah lalu terus menjadikan hal demikian menjadi siklus yang semakin hari semakin baik tingkatannya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT secara khusus memerintahkan puasa Ramadhan sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Oleh karena itu, memahami makna Ramadhan secara menyeluruh menjadi penting agar ibadah yang dijalani tidak sekadar rutinitas tahunan, tetapi benar-benar membawa perubahan positif dalam kehidupan manusia.
Lantas, setelah mengetahui konsep dasar ini, apakah kita perlu minder karena tidak yakin dengan apa yang akan kita lakukan kedepan setelah menjalani ibadah puasa dengan segala pelengkapnya? Tentu saja tidak, adalah hal yang lumrah bagi seorang manusia belajar dan terus belajar dengan acuan mengerucutkan sesuatu yang tidak tertata kearah yang lebih spesifik dalam hal ini adalah terus mencari Ridho Allah SWT.
Semoga dengan diberinya kesempatan kepada kita untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan ini, menjadi titik awal untuk kita bersama-sama meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT.

0 Komentar