GUz5GfA5GpY0GpCoTUYoGSMoBY==
  • PP. Faidul Mafahim
  • In Faidul Mafahim We Trust

Benarkah Pendidikan di Indonesia Hanya Memproduksi Tukang ?


Menyoal pendidikan adalah membicarakan sebuah agenda yang tidak akan pernah selesai (unfinished agenda). Bahkan di negara yang pendidikannya maju sekali pun. Mereka tetap terus berupaya menerapkan inovasi tanpa harus melepas prinsip pembelajaran imajinatif. Prinsip imajinatif ini bukan dalam artian pintar menghayal sesuatu yang tidak realistis, tetapi mendidik generasi muda agar terbiasa menciptakan sesuatu dari proses berpikir imajinatifnya itu. Tidak meniru, tidak menjiplak, tidak plagiat sehingga mampu melahirkan seniman di segala bidang. Bukan hanya menciptakan generasi tukang, yang hanya mahir secara teknik tapi kebingungan ketika harus mencipta sesuatu yang baru.

Prinsip imajinatif yang dimaksud di sini bukanlah kemampuan berkhayal tanpa pijakan realitas, melainkan kecakapan berpikir kreatif yang terlatih dan bertanggung jawab. Imajinasi justru merupakan fondasi penting dalam proses penciptaan—kemampuan untuk melihat kemungkinan baru, merumuskan gagasan orisinal, dan melahirkan karya yang belum ada sebelumnya. Pendidikan seharusnya mendidik generasi muda agar berani berpikir imajinatif, tidak sekadar meniru, menjiplak, atau mengulang pola lama, sehingga mereka mampu menjadi pencipta, bukan sekadar pengikut.

Tidak ada maksud penulis untuk mengecilkan peran orang-orang yang cerdik secara teknik, tetapi hanya sebagai refleksi pedagogis bahwa selama ini dunia pendidikan di Indonesia hanya memproduksi tukang, bukan pencipta. Poin ini yang patut menjadi perhatian bersama terutama stakeholders atau para pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Tukang di sini bukan istilah merendahkan, melainkan penanda bagi mereka yang mahir secara teknis namun gagap ketika diminta mencipta sesuatu yang baru. Mereka terlatih menjalankan instruksi, menguasai prosedur, dan meniru contoh yang sudah ada, tetapi kehilangan keberanian dan kemampuan untuk berimajinasi secara mandiri. Akibatnya, kreativitas sering kali berhenti pada batas teknis, bukan melampauinya.

Fenomena ini dapat dengan mudah kita jumpai di berbagai bidang. Bisa jadi di Indonesia banyak pembuat film, tetapi seniman film yang memiliki bahasa visual dan gagasan personal masih jarang. Banyak penyanyi, tetapi musisi dengan identitas artistik yang kuat tidak sebanyak itu. Banyak arsitek, tetapi seniman arsitektur—yang mampu melahirkan desain orisinal dari daya imajinasi sendiri—masih menjadi pengecualian. Tidak sedikit yang hanya mampu mencontoh gambar atau konsep orang lain, tanpa daya cipta untuk menghadirkan karya baru yang lahir dari pemikiran imajinatifnya sendiri.

Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari orientasi pendidikan yang terlalu menekankan kelulusan, nilai, dan standar seragam. Proses belajar diarahkan pada bagaimana “lulus dengan aman”, bukan bagaimana berpikir kritis dan kreatif. Di tingkat perguruan tinggi misalnya, kita kerap menjumpai tugas akhir atau penelitian yang secara substansi tidak jauh berbeda dari penelitian sebelumnya—yang berubah hanya lokasi atau subjeknya, sementara variabel dan kerangka berpikirnya tetap sama. Praktik semacam ini menunjukkan bahwa imajinasi akademik belum sungguh-sungguh menjadi ruh pendidikan.

Oleh karena itu, prinsip imajinatif patut menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan pendidikan. Pendidikan tidak cukup hanya mencetak tenaga terampil, tetapi harus berani membentuk pencipta gagasan dan karya. Ruang untuk bereksperimen, gagal, dan berbeda perlu dibuka sejak dini agar imajinasi tidak mati oleh ketakutan pada kesalahan. Jika tidak, sistem pendidikan akan terus mereproduksi generasi yang pandai bekerja, tetapi gagap mencipta—dan pada akhirnya tertinggal dalam peradaban yang justru digerakkan oleh imajinasi dan kreativitas.


0 Komentar

Ruang Komunikasi

Hubungi FM Horison

FM Horison terbuka untuk komunikasi, masukan, serta kiriman karya dari santri dan pembaca. Silakan hubungi kami melalui formulir ini untuk keperluan informasi, literasi, dan kerja sama edukatif.
Popup Image