Puncaknya adalah dari peristiwa mengerikan Covid 19, dengan diwarnai respon yang memaksa pembatasan sosial berskala besar, kemudian larangan kontak langsung antar masyarakat lalu menjadikan fasilitas teknologi sebagai satu urgensi mutlak dalam aktivitas sehari-hari, hingga dunia pendidikan formal pun terdampak dari sistem yang dicanangkan adalah untuk meminimalisir dampak dari penularan virus Covid 19 ini.
Semua aspek dalam kehidupan masyarakat terdampak, hingga mau tidak mau, peradaban manusia mengalami satu kondisi yang serba berbeda dari sebelumnya. Sektor ekonomi, sosial, budaya, pendidikan semuanya berubah kira-kira dalam waktu dua tahun saja. Digitalisasi yang harusnya diadaptasi masyarakat dalam waktu yang lebih panjang, akhirnya dihadirkan dalam waktu yang tidak memperhatikan apakah masyarakat sudah siap atau belum. Alhasil, penurunan kualitas terjadi di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ditambah fenomena kecerdasan buatan atau AI yang memungkinkan disalahgunakan oleh SDM yang belum mapan, menelurkan satu objek masalah besar baru dari mesin automatisasi ini.
Adanya culture shock ini, membuat masyarakat perhari ini masih berusaha berlari mengejar arah zaman yang mayoritas dari mereka belum sampai di titik nyaman yang sebenarnya. Bukti besar yang tidak bisa dipungkiri adalah ekonomi hari ini berada di tahap survival economic, dimana mayoritas masyarakat pekerja atau pebisnis skala mikro hanya bisa berada pada tahapan untuk bertahan hidup saja.
Sementara itu, tuntutan standar hidup terus bergerak kearah yang tidak simetris. Hal itu disebabkan karena masyarakat hari ini sudah tidak mungkin membatasi aktivitas media sosial dan kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan gadget dalam kesehariannya. Hal ini tentu menjadi cara mutlak untuk mendapatkan asupan informasi yang tidak jelas apakah itu bernilai positif atau negatif. Di satu sisi kita masih meraba untuk seperti apa bisa berdamai dengan pola baru peradaban manusia, disisi yang lain kita juga harus mengikuti standar hidup yang diklaim adalah titik ideal taraf hidup era baru ini tanpa peduli apakah kita mampu, pantas, siap atau tidak.
Dalam dunia pendidikan, sering sekali kita jumpai kualitas peserta didik hari ini mengalami penurunan dalam berbagai aspek. Mulai dari pengetahuan akademik, non akademik, krisis kultur, hingga redupnya eksistensi obsesi remaja dalam berekspresi untuk mengacu kepada hal-hal religius. Dalam kehidupan masyarakat, masalah pola asuh anak yang akhirnya mengarah pada rendahnya simulasi penjangkauan basik kognitif pada fase pertumbuhan, menggeser prinsip penanaman karakter baik dengan alasan ketakutan dimasa depan anak-anak kita akan menjadi pribadi yang selalu kalah dengan realita masa depan, hingga pada penanaman rasa saling menghormati dan menghargai sesama, hari ini sudah semakin jauh dari perhatian kita semua.
Mengamati fenomena yang tak gamblang dibicarakan publik tentu membutuhkan fokus yang relatif tinggi, gambaran kondisi hari ini membuat banyak sekali masyarakat terdampak hingga benar-benar masuk dalam kondisi yang serba sulit. Tak peduli usia dan fase berapapun. Anak-anak dengan dunia pendidikan dan lingkungannya, remaja dengan dunia pendidikan, lingkungan masyarakat, dan algoritma beranda sosial media nya, kemudian dewasa dengan kondisi ekonomi, sosial masyarakat, dan banyak aspek lainnya.
Ditengah euforia palsu merayakan upgradenya ketersinambungan antara teknologi dan kehidupan masyarakat, apa peran pesantren yang dikenal sejak lama selalu menjadi jembatan penghubung antara kebuntuan dan solusi dari fenomena dalam menentukan arah kehidupan masyarakat menuju hal-hal baik?
Sejak ratusan tahun, pesantren selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama, akademik ,budaya, dan sosial masyarakat. Nilai dan norma menjadi bagian dari integrasi membangun suatu sistem pendidikan yang ideal. Sederhananya, adakah yang lebih penting dari sebuah langkah kongkret menyiapkan para generasi penerus dalam bingkai karakter yang religius, berbudi pekerti luhur, dan selalu paham dengan batasan norma sosial namun tetap mengupgrade penguasaan pengetahuan akademik? Tentu saja tidak ada.
Ditengah gejala yang melanda masyarakat imbas dari ketidaksiapan dan ketidaktahuan mengenai hal-hal vital yang terjadi hari ini, keberadaan pesantren tentu menjadi jawaban mutlak untuk kita lebih dewasa menyikapi setiap perubahan zaman ini.
Bagaimana dengan identitas pesantren sendiri yang terkesan kuno karena mengadaptasi gaya klasikal dalam mencipta lingkungan kelompok santri? Apakah itu bukan penghambat generasi penerus dalam mengupdate pengetahuannya?
Jawabannya tidak menghambat sama sekali. Karena kemajuan teknologi hari ini selalu mengacu pada kemudahan akses. Kepentingan industrial masih berdiri kokoh bersama warna warni kemajuan teknologi dan perkembangan peradaban manusia. Artinya, dengan kita menyiapkan kuda-kuda yang kuat dalam membentuk karakter generasi penerus, maka secanggih apapun dan seaneh apapun kemajuan teknologi akan selalu selaras dengan nilai-nilai yang tidak melanggar norma sosial manapun. Dan yang tak kalah penting, tentu akan selalu sejalan dengan prinsip nilai-nilai agama.
Dengan demikian, belajar dari kondisi hari ini untuk menyiapkan masa depan yang arahnya sulit kita bayangkan, maka menempatkan pesantren pada tempat yang tepat untuk dijadikan sebagai wujud ikhtiar keterlibatan kita mencipta ruang hidup yang terus baik dan lebih kondusif, merupakan reaksi paling bijak yang akan berdampak besar terhadap masa depan peradaban manusia.

0 Komentar