GUz5GfA5GpY0GpCoTUYoGSMoBY==
  • PP. Faidul Mafahim
  • In Faidul Mafahim We Trust

Yakin Pesantren Sudah Tidak Relevan Lagi Untuk Bangsa Yang Dikenal Sangat Ramah di Dunia? Yuk Simak Penjelasannya!

Yakin Pesantren Sudah Tidak Relevan Lagi Untuk Bangsa Yang  Dikenal Sangat Ramah di Dunia? Yuk Simak Penjelasannya!
Apakah eksistensi pesantren akan redup seiring ramainya pemberitaan miring dunia kepesantrenan di banyak media mainstream tanah air?

Badai panjang yang melanda dunia pesantren di Indonesia agaknya belum reda hingga saat ini. Pemberitaan miring mengenai banyak isu negatif terus bermunculan di setiap sudut informasi yang menjadi bahan hangat konsumsi publik. Sistem pendidikan ala pesantren yang selalu dikaitkan dengan budaya feodal, kenyamanan dan keamanan ruang belajar santri yang selalu dikaitkan dengan sesuatu bernuansa tidak ramah anak, hingga oknum figur seorang kyai atau guru yang memperlihatkan perilaku melenceng dari norma sosial dan agama terus bermunculan dimana-mana.

Reaksi publik tentu bervariatif, mulai dari yang apa-apa langsung menjudge semua pesantren sebagai ruang pendidikan tidak layak, menyodorkan spekulasi dengan dasar kebencian semata, hingga membeberkan data untuk dijadikan satu generaslisasi dari sumber yang sama sekali tidak kompleks. Meskipun sangat banyak juga, orang-orang yang lebih jeli dan teliti memberikan sikap dari fenomena demikian. Masih menganggap bahwa Pesantren adalah tempat terideal untuk menyiapkan generasi penerus dalam menimba ilmu agama, memandang bahwa pemberitaan miring tidak bisa dijadikan sebagai bentuk penyetaraan klaim mengenai buruknya kualitas pendidikan kepesantrenan, dan yang paling umum adalah dengan tetap berpegang pada data faktual tentang sejarah panjang pesantren yang selalu hadir dan berperan aktif dalam mencetak generasi penerus bangsa yang baik disetiap zamannya.

Jika kita mau sedikit kritis dan jeli menyikapi maraknya berita-berita jelek dari dunia pesantren, ada fakta yang mungkin tidak disadari oleh kebanyakan orang. Melalui perbandingan kuantitas, jumlah pesantren yang diberitakan dengan narasi jelek yang hari ini muncul, bahkan tidak sampai 10% dari total pesantren yang ada di Indonesia. Jumlahnya yang mencapai 41.599 Pesantren Di tahun 2025 kemarin, dapat kita bandingkan jelas dengan nama-nama pesantren yang diisukan memiliki citra buruk yang bahkan sampai viral diberbagai platform pemberitaan manapun.

Sekarang mari kita refleksikan dengan hati dan pikiran yang netral untuk menemukan jawaban dari drama pro-kontra yang dibuat oleh beberapa golongan yang sepertinya sudah kehabisan cara untuk membuat redaksi yang anti provokatif.

Dalam mengejar sebuah pencapaian, khususnya viralitas tentu kita tahu bersama jalur instan yang saat ini mudah dijadikan landasan pacu oleh beberapa kelompok dengan kerap mengesampingkan kode etik atau tuntutan profesionalisme dalam mencipta dan mempublikasi narasi berita. Tentu tidak lain adalah dengan menggunakan bahasa provokatif dengan giringan opini publik keranah sensitif terhadap setiap redaksi yang dipublikasikan.

Mengenai fakta lain tentang pesantren yang ternyata juga selalu aktif memberi dampak positif di berbagai ruang dalam masyarakat, bisakah agenda keagamaan disetiap masjid atau musholla tetap merebak tanpa figur yang tidak pernah nyantri?,  idealkah forum-forum diskusi kecil disetiap sudut tempat membahas kajian keagamaan untuk mengimbangi atau menetralisir paham bebas yang semakin kesini semakin tidak terfilter dikalangan masyarakat tanpa figur yang sumber pengetahuan atau sanad keilmuannya jelas? Atau adakah tempat lain selain pesantren yang model dan metode pendidikannya kompleks  mulai dari memahami kajian tertentu, mencari referensi yang luas untuk membuat analisis objektif mengenai fenomena ditengah masyarakat, merumuskan kebijakan yang paling ideal dengan memperhatikan relevansi serta acuan yang jelas mengenai hukum-hukum agama Islam? Sampai pada titik mengkoreksi ulang, rumusan yang telah dibuat untuk menyesuaikan terhadap setiap perubahan pola hidup masyarakat dan akan terus seperti itu sampai kapanpun?

Bukan suatu kesalahan ketika seseorang memberi reaksi marah, kecewa dan mungkin sampai mengumbar kebencian terhadap isu miring pesantren. Karena itu adalah bagian dari reaksi publik yang saat ini merupakan hal yang lumrah. Tapi bukankah bersikap tenang lalu menimbang baik buruknya persoalan untuk menemukan jawaban paling bijak lebih diperlukan hari ini?

Di zaman yang kultur masyarakatnya sudah berubah, memperhatikan setiap detail kecil yang muaranya adalah corak identitas baru dari citra suatu bangsa, membiarkan transisi kontras dari bangsa yang dikenal sangat ramah menjadi bangsa yang julid tentu bukan perilaku yang dewasa. Ada banyak sekali fakta yang bisa kita jadikan sumber data sebelum keputusan, spekulasi, argumentasi kita publikasikan. Sebelum hal-hal kecil ini menjadi wajar lewat proses normalisasi sembrono, kita bisa menghadirkan ruang hidup yang lebih bijaksana untuk meminimalisir terjadinya perpecahan yang timbul dari hal-hal yang ternyata bisa kita kendalikan sebelumnya.

0 Komentar

Ruang Komunikasi

Hubungi FM Horison

FM Horison terbuka untuk komunikasi, masukan, serta kiriman karya dari santri dan pembaca. Silakan hubungi kami melalui formulir ini untuk keperluan informasi, literasi, dan kerja sama edukatif.
Popup Image