Dalam Era Teknologi yang semakin pesat perkembangannya, peran santri ditengah masyarakat menjadi semakin penting. Menurut KH. Mustofa Bisri (Gus Mus): Santri adalah murid kiai yang dididik untuk menjadi mukmin kuat, mencintai tanah air, menghormati guru dan orang tua, menyayangi sesama, cinta ilmu, tidak pernah berhenti belajar, dan bersyukur. Berdasarkan prinsip demikian, dapat disimpulkan jika seorang santri tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri melainkan wajib ada dampak nyata yang harus ditularkan kepada orang lain atau masyarakat sekitar.
Menurut Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, Ph.D., Santri, yang selama ini dikenal sebagai pengawal moral dan penjaga nilai-nilai keagamaan, kini dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana Santri dapat memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran dan dakwah. Pernyataan ini sangat relevan dengan kondisi hari ini, dimana perkembangan zaman yang semakin pesat harus diimbangi dengan perkembangan kualitas agen perubahannya. Terlebih lagi mereka yang intens mempelajari nilai-nilai agama. Karena agama merupakan metode dan media paling ampuh yang sudah digunakan sejak ribuan tahun dalam mengontrol setiap perubahan pola zaman ditengah masyarakat.
Urgensi Terkait Literasi Digital Bagi Para Santri:
Teknologi telah membuka akses yang luas dalam banyak sektor. Luasnya jangkauan teknologi dalam menentukan arah perkembangan zaman memungkinkan untuk setiap orang dapat dengan mudah mengakses hal-hal positif dan negatif tanpa kesulitan apapun. Disinilah peran yang harus dipahami oleh para santri masa kini, mereka harus mempunyai pembacaan situasi untuk terlibat aktif dalam menyebarkan informasi positif dengan pemanfaatan teknologi sebagai upaya dalam memberikan dampak positif yang lebih efektif.
Dari tinjauan inilah pada akhirnya santri harus mempunyai beberapa keterampilan dan keterlibatan seperti menjadi Penyebar informasi positif yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan sebelum menyebarluaskan ke masyarakat umum lewat banyak platform digital hari ini. Lalu Menjadi titik central dalam mensyiarkan nilai-nilai agama yang berpusat pada mempromosikan prinsip kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian. Dan masih banyak lagi lainnya.
Untuk mendukung segenap pencapaian ini, para santri tentu harus mendapatkan fasilitas yang memadai ketika menempuh pendidikan pesantrennya. Dalam banyak diskusi publik, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Pesantren hari ini juga harus memprioritaskan pembangunan pondasi keilmuan khususnya dalam hal Literasi Digital bagi santri-santrinya.
Langkah kongkret yang dapat dilakukan oleh Pesantren untuk turut mendukung program santri yang nantinya mampu menjawab tantangan global juga cenderung cukup sederhana. Menghadirkan program pembelajaran terkait dengan bijak mengakses teknologi, memasukan mata pelajaran tentang etika digital, pemanfaatan media sosial sebagai media dakwah dan lain-lain.
Kesimpulan
Dengan Banyaknya perubahan pola ditengah kemajuan masyarakat yang mulai menyatu dengan teknologi, Literasi Digital bagi santri bukan lagi tentang pilihan tambahan saja. Santri yang membawa citra serta histori panjang insan-insan penyangga peradaban, harus mulai melek terhadap kemajuan teknologi. Meskipun pesantren tetap tidak akan meninggalkan metode pendidikan klasikalnya sebagai identitas yang sudah terbukti memberi dampak positif dalam penanaman nilai karakter yang berbudi luhur, seiring perkembangan zaman ini mewajibkan juga kepada setiap Pesantren memberikan literasi Digital yang baik sesuai dengan relevansinya terhadap kemajuan zaman.

0 Komentar