GUz5GfA5GpY0GpCoTUYoGSMoBY==
  • PP. Faidul Mafahim
  • In Faidul Mafahim We Trust

Mengenal Lebih Jauh Konsep Pendekatan Holistik dalam Dunia Pendidikan Nasional

 

Belakangan kita sering mendengar istilah pendekatan holistik dalam metode pendidikan di kurikulum merdeka yang saat ini tengah diterapkan pada sistem pendidikan Nasional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "holistik" berarti:"menyeluruh, mencakup semua aspek atau unsur yang terkait"

Dalam konteks pendidikan, pendekatan holistik berarti mempertimbangkan keseluruhan aspek perkembangan siswa, termasuk aspek intelektual, emosional, sosial, fisik, dan spiritual, untuk mencapai tujuan pendidikan yang seimbang dan menyeluruh.

Satu konsep visioner yang kalau kita tidak jeli menelaahnya maka akan berdampak pada tidak maksimalnya inti dari tujuan diberlakukan kurikulum ini tercapai. Sebagai contoh, ketika pertama kali diberlakukannya kurikulum merdeka, banyak diantara kalangan akademisi, praktisi pendidikan, dan segenap civitas akademika keliru mendefinisikan arti dari kata "merdeka" itu sendiri.

Kebanyakan orang, mengartikan kata merdeka dengan kata "bebas" padahal dalam kajian kebahasaan, kata merdeka lebih memiliki kedekatan makna dengan kemandirian atau independensi. Yang berarti setiap lembaga pendidikan diwajibkan untuk mampu mandiri membentuk suatu sistem kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dengan memperhatikan aspek latar belakang kebutuhan masing-masing lembaga pendidikan. Bukan membentuk kurikulum bebas yang tanpa konsep dan tanpa acuan yang jelas. Dari perspektif umum saja, sudah banyak yang keliru menelaah konsep kurikulum merdeka ini. Apalagi hari ini kita dihadapkan pada satu fenomena maraknya penggunaan istilah pendekatan holistik dalam dunia pendidikan sekarang.

Apakah konsep "menyeluruh,menyetarakan,dan menyamakan" dalam pendekatan holistik berarti melewati proses-proses detailing seperti pendekatan personal terhadap masing-masing peserta didik?  Tentu model ini dimaksudkan untuk mencakup keseluruhan pemenuhan kebutuhan dari masing-masing personal peserta didik. Termasuk peserta didik yang memiliki kebutuhan pendampingan dengan porsi lebih banyak dari teman-temannya, yang perlu digarisbawahi adalah terdapat kata "pendekatan" yang berarti dari banyaknya jumlah peserta didik, tidak boleh hanya diberi materi pembelajaran dengan standar penyamarataan kebutuhan personal, tetapi lebih ke memberikan fasilitas pendampingan yang menyeluruh dari setiap personal peserta didiknya.

Sederhananya, dengan pendekatan holistik, kesan yang sebelumnya melekat pada hasil pencapaian belajar disekolah menempatkan para peserta didik dengan bakat diatas rata-rata menjadi subjek khusus yang selalu mendapat perhatian lebih, sekarang menjadi penyamarataan hak pemenuhan kebutuhan bagi para peserta didik yang kebetulan kurang mampu mencerna atau memahami dan juga membutuhkan waktu, keberagaman model pengajaran, serta pendekatan personal yang lebih kompleks untuk berkembang setara dengan mereka yang memiliki kualitas bakat diatas rata-rata.

Perlu diingat juga, bahwa dari konsep ini, penyelenggara kurikulum menitikberatkan juga pada pengembangan yang nyata dari latar belakang minat serta bakat peserta didik yang pasti beragam bentuknya. Dengan demikian, jika kita tidak terburu-buru menyimpulkan konsep pendekatan holistik dalam dunia pendidikan sekarang, maka tidak akan ada lagi diskriminasi terhadap para peserta didik dengan basik bakat dibawah rata-rata. Sekolah akhirnya tidak hanya memfasilitasi peserta didik yang pintar saja, tetapi juga memberikan dampingan dalam rangka peningkatan kualitas akademik dan non akademik dari keseluruhan peserta didik tanpa terkecuali.

0 Komentar

Ruang Komunikasi

Hubungi FM Horison

FM Horison terbuka untuk komunikasi, masukan, serta kiriman karya dari santri dan pembaca. Silakan hubungi kami melalui formulir ini untuk keperluan informasi, literasi, dan kerja sama edukatif.
Popup Image