Diera digitalisasi seperti hari ini, semua tatanan masyarakat perlahan berubah. Perubahannya cenderung sangat drastis sehingga banyak masyarakat terpaksa kalah dan berhenti dalam kondisi yang menyedihkan. Banyak diantaranya juga yang sampai mengenaskan. Uniknya semua bukan didasari oleh sebuah peristiwa berdarah atau kekejaman fisik serta bukan karena faktor alam. Tetapi karena sebuah mindset yang semakin kesini semakin tidak menentu.
Giringan opini berkembang tak terkontrol sama sekali. Ya ini tentang bagaimana orang saling terkoneksi satu dengan lainnya tanpa filter dan pembatas yang dahulu sangat diperhatikan. Lewat media sosial, kesenjangan antara kelas-kelas sosial masyarakat melebur menjadi satu urgensi mutlak yang harus kita analisa secepatnya. Tidak berhenti disitu, luasnya jangkauan komunikasi publik seperti media sosial juga berakibat pada kemungkinan seseorang sulit mengontrol circle komunikasi hingga menjadi hubungan pertemanan yang cenderung bebas.
Orang-orang dengan perbedaan karakter, usia, rutinitas, latarbelakang status sosial, agama, budaya, profesi, dan masih banyak lainnya saat ini mudah untuk membentuk jaringan komunikasi yang dapat dikatakan intens. Hal ini bagus jika kita tidak menyikapinya dengan ruwet. Tapi faktanya, banyak sekali orang yang justru menyikapinya dengan satu stimga yang kacau.
Standar hidup yang hari ini kerap dinilai ideal, rata-rata bersumber dari ukuran seseorang yang kebetulan memiliki power untuk mengklaim dan menginfluence. Cara orang memberi pandangan tentang banyak fenomena juga dipengaruhi oleh hal yang sama. Tanpa pertimbangan yang matang, tanpa riset mendalam, dan juga mungkin tanpa rasa iba. Alhasil, semua orang bergerak kearah yang sama tanpa memikirkan seperti apa konsekuensi yang harus ditanggung dari masing-masing personalnya.
Simiskin menuntut gaya sikaya, sibodoh menuntut peran sipintar, sijahat menuntut kesan sibaik, dan lain sebagainya. Apa ini baik?
Jangan terburu-buru menarik kesimpulan akhir dari bahasan panjang yang tidak akan kita selesaikan disini. Sebab itu sama saja dengan mengganti judul buku bacaan sebelum kita menyelesaikannya.
Realita sosial hari ini sangat aneh jika ditinjau menggunakan pemahaman lama tentang definisi suatu peristiwa. Imbas dari meleburnya komunikasi yang terjaring secara bebas saat ini membuat kita wajib teliti untuk menemukan jawaban betapa rawannya kita hanyut dalam keadaan yang serba sulit. Dalam era komunikasi yang sangat bebas ini, kita dihadapkan pada tantangan untuk menavigasi kompleksitas interaksi sosial yang melintas batas-batas latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, dan agama serta perbedaan mendasar lainnya. Di satu sisi, kemampuan untuk menjalin hubungan dengan individu dari berbagai latar belakang dapat memperkaya wawasan dan pengalaman kita, serta memfasilitasi pertukaran ide dan pengetahuan yang lebih luas. Namun, di sisi lain, kita juga harus berhadapan dengan risiko kehilangan arah dan identitas jika kita terlalu mengikuti arus komunikasi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kita. Menolak untuk terlibat dalam komunikasi yang tidak kita setujui juga dapat membuat kita terisolasi dari jangkauan komunikasi publik, sehingga kita harus mencari keseimbangan yang tepat antara beradaptasi dengan lingkungan sosial dan tetap setia pada diri sendiri. Dalam konteks ini, kemampuan untuk mengembangkan kesadaran kritis dan keterampilan komunikasi yang efektif menjadi sangat penting untuk dapat menavigasi kompleksitas interaksi sosial dan mempertahankan integritas diri.
Jika kita mengambil contoh kasus dari sisi imbas negatif peristiwa ini misalnya seseorang yang mengupayakan pencapaian tidak sesuai kemampuannya hingga menempuh cara-cara konyol, seseorang yang kehilangan jati dirinya karena terobsesi dengan orang lain, atau contoh lucu seperti seseorang yang tiba-tiba mengklaim menjadi seorang ateis hanya bermodalkan malas ibadah dan nonton potongan video di media sosial, dan masih banyak lagi.
Pertanyaannya, di situasi seperti itu, langkah apa yang paling tepat untuk kita lakukan? Tentu saja dengan masuk pada suatu kondisi yang disitu benar-benar mensimulasikan tentang bagaimana membentuk karakter dan ideologi untuk tidak kaget jika suatu saat semua benar-benar hanya mengarah pada sisi negatif dari gejala sosial yang sedang kita bahas.
Tidak ada kata terlambat untuk menemukan solusi dari persoalan semacam ini. Dengan keterlibatan real, sekecil apapun peran akan jauh lebih baik dari pada tidak melakukan apapun. Sekadar disclaimer, kita coba menelaah kemungkinan terburuk untuk dapat paling tidak meminimalisirnya.
Jalan yang dekat dan efisien adalah lewat pendidikan. Menumbuhkan kualitas SDM tentu menjadi bagian paling krusial dalam memecah suatu masalah. Bukan tanpa alasan, semua respon yang kerap kita lakukan adalah hasil dari pemikiran yang sudah melewati tahapan pertimbangan.
Lalu dimana kita bisa membentuk pola pikir yang arahnya selalu menuju keseimbangan mutlak? Jawabannya di Pesantren. Lewat Pesantren pendidikan yang kompleks akan sangat membantu seseorang untuk menemukan jalan menuju keseimbangan pola pikir yang mapan.

0 Komentar