GUz5GfA5GpY0GpCoTUYoGSMoBY==
  • PP. Faidul Mafahim
  • In Faidul Mafahim We Trust

Memahami Isra' Mi'raj dalam Prespektif Psikologi Sosial


Isra’ Mi’raj dapat dimaknai sebagai peristiwa spiritual yang tidak hanya berdimensi teologis, tetapi juga memiliki dampak psikologis dan sosial yang kuat bagi individu dan masyarakat. Dalam psikologi sosial, peristiwa simbolik bersama berfungsi membangun makna kolektif, memperkuat identitas kelompok dan menjadi sumber ketahanan mental. Kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW ini hadir di tengah tekanan sosial, penolakan, serta penderitaan, sehingga menjadi narasi harapan yang meneguhkan umat secara psikologis dan sosial.

Menurut perspektif psikologi sosial, Isra’ Mi’raj merepresentasikan proses coping kolektif. Ketika sebuah komunitas berada dalam situasi tertekan, narasi religius yang dimaknai bersama membantu mengelola kecemasan dan menjaga optimisme. Perintah salat yang lahir dari peristiwa ini berfungsi sebagai ritual sosial yang berulang, tidak hanya sebagai sarana spiritual, tetapi juga sebagai mekanisme pengaturan emosi personal dan penguatan solidaritas kelompok.

Isra’ Mi’raj juga menunjukkan pentingnya dukungan sosial simbolik. Dalam psikologi sosial, keyakinan bahwa individu terhubung dengan kekuatan transenden dan komunitas yang lebih luas dapat meningkatkan rasa aman, makna hidup, dan keberanian moral. Pengalaman transendental ini memperkuat kepercayaan diri kolektif umat Islam, terutama ketika menghadapi marginalisasi, konflik, dan ketidakadilan sosial.

Pemaknaan psikologi sosial terhadap Isra’ Mi’raj juga dapat menjadi alat kritik untuk membongkar perilaku masyarakat modern. Kita hidup di era yang sibuk membangun tembok-tembok identitas—agama, golongan, dan simbol kesalehan—tetapi sering lupa membangun relasi kemanusiaan yang plural dan empatik. Dalam kacamata psikologi sosial, identitas yang terlalu eksklusif justru berpotensi melemahkan empati dan memperlebar jarak antarkelompok.

Kita kerap gelisah melihat masjid kosong, tetapi cenderung tenang ketika masyarakat saling memaki di ruang media sosial. Kita bangga ketika jumlah jamaah membludak dan semakin banyak orang mampu umrah ke Baitullah, tetapi sering abai terhadap meningkatnya jumlah orang miskin, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas yang tak pernah masuk dalam radar kebijakan publik. Mereka terpinggirkan ke sudut peradaban dan acap terlupakan, seolah kesalehan tidak lagi memiliki implikasi sosial.

Pada akhirnya, memaknai Isra’ Mi’raj melalui psikologi sosial mengajak kita untuk menyeimbangkan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Peristiwa ini seharusnya mendorong transformasi perilaku kolektif: memperkuat empati, memperluas kepedulian, dan meneguhkan relasi kemanusiaan yang inklusif. Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan vertikal menuju langit, tetapi juga panggilan horizontal untuk turun kembali ke bumi dan membela mereka yang terpinggirkan.

0 Komentar

Ruang Komunikasi

Hubungi FM Horison

FM Horison terbuka untuk komunikasi, masukan, serta kiriman karya dari santri dan pembaca. Silakan hubungi kami melalui formulir ini untuk keperluan informasi, literasi, dan kerja sama edukatif.
Popup Image