GUz5GfA5GpY0GpCoTUYoGSMoBY==
  • Pesantren Faidul Mafahim
  • In Faidul Mafahim We Trust

Faidul Mafahim Hadirkan Parenting ala Pesantren: Ketika Khazanah Pesantren Bertemu Psikologi

 

Di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan istilah self-acceptance, self-control, emotional regulation, empathy,hingga mental health, Pesantren Faidul Mafahim justru menghadirkan ruang dialog antara bahasa psikologi modern dengan khazanah pendidikan pesantren melalui kegiatan “Parenting ala Pesantren”.

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Ahad, 4 Oktober 2026, di Pesantren Faidul Mafahim. Acara ini menghadirkan Anggun Dwi Cahyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Frame Psychology Consultant sekaligus Psikolog Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung, yang akan berkolaborasi dengan Gus M. Mutawakil Alallah Kafabih, S.Psi., M.Ag., selaku Pengasuh Pesantren Faidul Mafahim. Secara formal, kegiatan akan dibuka oleh Ning Alfi Inayah, S.M., Ketua Yayasan Marwah Digdaya Paradigma.

Gagasan kegiatan ini berangkat dari sebuah kenyataan bahwa pesantren masih sering dipersepsikan sebagai lembaga pendidikan yang kuno dan kurang relevan dengan kehidupan modern. Sarung, kitab kuning, tradisi talaqqi, kehidupan sederhana, dan pola pendidikan yang khas sering kali dianggap sebagai simbol masa lalu.

Padahal, pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan Islam tertua di Nusantara dan telah berkembang jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Pesantren tidak hanya menjadi tempat transmisi ilmu keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan kesadaran sosial.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ulama dan pemimpin keagamaan, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya intelektual dan profesional yang berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. KH Wahid Hasyim, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur)merupakan tokoh yang memiliki keterkaitan kuat dengan dunia pesantren dan memberikan kontribusi besar dalam kehidupan kebangsaan. Ranah intelektual, Nurcholish Madjid (Cak Nur) menunjukkan bagaimana latar pendidikan Islam dapat berkembang menjadi pemikiran akademik yang berpengaruh luas.

Tidak hanya di bidang keagamaan dan pemikiran, alumni dan lulusan lembaga pendidikan pesantren juga telah memasuki berbagai profesi modern—mulai dari dokter, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, ilmuwan, insinyur, hingga profesional di berbagai bidang. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren tidak harus dipertentangkan dengan sains dan profesi modern. Justru, ketika pendidikan pesantren memberikan fondasi agama, karakter, kedisiplinan, dan kemandirian yang kemudian diperkaya dengan pendidikan sains dan teknologi, seorang santri dapat memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi di berbagai bidang keilmuan.

Dengan demikian, menyebut pesantren sebagai “kuno” hanya karena menggunakan pola pendidikan yang diwariskan dari generasi ke generasi adalah kesimpulan yang terlalu sederhana. Yang perlu dilihat bukan semata bentuk luarnya, tetapi nilai-nilai kepesantrenan dan sistem pendidikan yang hidup di dalamnya.

Menariknya, jauh sebelum kesehatan mental menjadi perbincangan populer di ruang publik, pendidikan pesantren telah mengenalkan sejumlah nilai yang berkaitan dengan pengelolaan diri dan pembentukan kepribadian. Qanaah mengajarkan kemampuan mengelola keinginan dan menerima keterbatasan. Mujahadah melatih pengendalian diri. Tawadhu membentuk kesadaran untuk tidak menempatkan diri secara berlebihan. Muhasabah mengajarkan refleksi diri. Sementara sabar, syukur, ikhlas, ta'awun, ukhuwah, dan husnuzan menjadi bagian dari pendidikan karakter dan kehidupan sosial di pesantren.

Tentu, nilai-nilai tersebut tidak dapat disamakan begitu saja dengan istilah psikologi modern. Qanaah tidak identik sepenuhnya dengan self-acceptance, begitu pula tawadhu tidak sama dengan konsep psikologis tertentu. Keduanya lahir dari tradisi keilmuan yang berbeda. Namun, justru di situlah ruang dialog ilmiahnya menjadi menarik.

Psikologi dapat memberikan perangkat ilmiah untuk memahami perkembangan manusia, sedangkan pesantren memberikan orientasi nilai tentang manusia seperti apa yang hendak dibentuk.

Parenting ala Pesantren yang digagas Faidul Mafahim hendak mempertemukan kedua wilayah tersebut. Konstruksi ilmiah tentang pengasuhan akan dibedah melalui disiplin ilmu psikologi, tetapi tetap beralaskan nilai, visi, dan arah pendidikan pesantren.

Hal ini menjadi penting karena tantangan anak hari ini tidak sederhana. Anak tumbuh dalam lingkungan digital, budaya perbandingan sosial, tekanan akademik, perubahan pola komunikasi, serta derasnya informasi. Orang tua tidak cukup hanya mengetahui bagaimana mendidik anak agar berprestasi; mereka juga perlu memahami bagaimana anak berkembang secara emosional, sosial, intelektual, dan spiritual.

Pada titik inilah keluarga menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan pesantren. Sekolah dan pesantren tidak dapat berjalan sendirian. Pendidikan membutuhkan sinergi antara orang tua, guru, pengasuh, dan lingkungan.

Selain kegiatan parenting, Faidul Mafahim juga akan me-launching SPMB Tahun Ajaran 2027/2028. Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut sekaligus mendaftarkan putra-putrinya akan memperoleh privilege berupa bebas uang gedung, sesuai ketentuan program.

Lebih dari sekadar agenda penerimaan peserta didik baru, momentum ini menjadi penegasan bahwa Faidul Mafahim ingin membangun pendidikan yang berakar pada nilai-nilai pesantren sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Sebab, menjadi pesantren yang relevan tidak harus berarti meninggalkan identitas kepesantrenan. Justru, nilai-nilai pesantren dapat menjadi akar yang kuat untuk menyambut perkembangan zaman.

Pesantren dapat tetap menjaga kitab kuning, sanad keilmuan, adab, ketawadhuan, kemandirian, dan kehidupan kolektif; sekaligus membuka cakrawala terhadap psikologi, teknologi, dan ilmu pengetahuan modern.

Barangkali inilah makna pendidikan pesantren yang terus hidup: bukan sekadar mewariskan apa yang telah ada, tetapi mampu menjadikan warisan keilmuan pesantren sebagai bekal untuk membaca persoalan manusia pada setiap zaman.

Melalui Parenting ala Pesantren, Faidul Mafahim mengajak orang tua untuk kembali mengajukan pertanyaan mendasar: bukan hanya “bagaimana agar anak sukses?”, tetapi “manusia seperti apa yang sedang kita tumbuhkan?”


0 Komentar

Ruang Komunikasi

Hubungi FM Horison

FM Horison terbuka untuk komunikasi, masukan, serta kiriman karya dari santri dan pembaca. Silakan hubungi kami melalui formulir ini untuk keperluan informasi, literasi, dan kerja sama edukatif.
Popup Image