GUz5GfA5GpY0GpCoTUYoGSMoBY==
  • Pesantren Faidul Mafahim
  • In Faidul Mafahim We Trust

Sekolah Tidak Membuat Cerdas ? Sebuah Tinjauan Psikologi dan Filsafat

Pernyataan bahwa “sekolah tidak membuat seseorang menjadi cerdas” sekilas terdengar provokatif. Namun, jika dipahami secara lebih mendalam, pernyataan tersebut sebenarnya mengandung kritik penting terhadap cara kita memaknai pendidikan. Sekolah memang bukan satu-satunya tempat manusia menjadi cerdas. Akan tetapi, mengatakan bahwa sekolah tidak membuat cerdas secara mutlak juga merupakan penyederhanaan yang perlu dikritisi.

Kecerdasan manusia tidak lahir hanya dari bangku sekolah. Lingkungan keluarga, pengalaman hidup, interaksi sosial, budaya, bacaan, kegagalan, bahkan persoalan yang dihadapi seseorang turut membentuk kemampuan berpikir. Dalam psikologi pendidikan, Lev Vygotsky melalui teori sociocultural menjelaskan bahwa perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan. Artinya, manusia belajar bukan dalam ruang kosong, tetapi melalui hubungan dengan orang lain dan kebudayaan di sekitarnya.

Dalam konteks ini, sekolah memiliki posisi yang sangat penting. Sekolah menyediakan lingkungan yang secara sengaja dirancang untuk memfasilitasi proses belajar. Guru memberikan scaffolding, yaitu bantuan yang memungkinkan peserta didik menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya belum mampu dilakukan secara mandiri. Karena itu, sekolah bukan “pabrik kecerdasan”, tetapi ruang yang memfasilitasi tumbuhnya kemampuan berpikir, bernalar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.

Demikian pula teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif menunjukkan bahwa kemampuan berpikir berkembang melalui proses interaksi aktif seseorang dengan lingkungannya. Anak tidak cukup hanya menerima informasi; ia harus mengonstruksi pengetahuannya melalui pengalaman. Dari sini, sekolah semestinya tidak berhenti pada aktivitas menghafal materi, tetapi mendorong peserta didik untuk bertanya, menguji, menganalisis, dan menemukan. 

Dalam filsafat pendidikan, John Dewey bahkan memandang pendidikan sebagai proses kehidupan itu sendiri, bukan sekadar persiapan untuk kehidupan. Pendidikan harus berangkat dari pengalaman dan menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata. Dengan demikian, kritik terhadap sekolah sebenarnya bukan pada keberadaan sekolah, melainkan pada model sekolah yang hanya mengejar nilai, ranking, hafalan, dan kelulusan tanpa membentuk daya pikir serta karakter.

Kita juga perlu membedakan antara sekolah dan sistem persekolahan. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki potensi besar untuk mencerdaskan. Namun, sistem pendidikan yang terlalu menekankan standar angka dapat membuat kecerdasan dipersempit menjadi nilai ujian. Padahal, Howard Gardner melalui teori Multiple Intelligences mengingatkan bahwa kemampuan manusia memiliki beragam bentuk. Ada kecerdasan linguistik, logis-matematis, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan bentuk kemampuan lainnya.

Maka, persoalannya bukan apakah sekolah membuat manusia cerdas atau tidak. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: sekolah seperti apa yang mampu membuat manusia bertumbuh menjadi cerdas?

Sekolah yang baik bukan sekolah yang sekadar membuat anak mampu menjawab soal, tetapi sekolah yang membuatnya mampu memahami persoalan. Bukan hanya membuat peserta didik pandai menghafal, tetapi mampu berpikir. Bukan hanya mengejar prestasi akademik, tetapi membangun karakter, tanggung jawab, empati, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Dengan demikian, kritik terhadap sekolah perlu diterima sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai alasan untuk meniadakan peran sekolah. Sekolah tidak menciptakan kecerdasan dari ketiadaan; sekolah seharusnya menyediakan ruang agar potensi kecerdasan manusia dapat tumbuh, terarah, dan memberi manfaat. Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar menjadikan seseorang “pintar”, melainkan membantu manusia menjadi pribadi yang mampu menggunakan pengetahuannya dengan benar dan bijaksana.

0 Komentar

Ruang Komunikasi

Hubungi FM Horison

FM Horison terbuka untuk komunikasi, masukan, serta kiriman karya dari santri dan pembaca. Silakan hubungi kami melalui formulir ini untuk keperluan informasi, literasi, dan kerja sama edukatif.
Popup Image