Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: untuk apa ilmu itu digunakan dan menjadi manusia seperti apakah seseorang setelah mendapatkan pendidikan? Pertanyaan tersebut membawa kita pada pembicaraan tentang sekolah dan pesantren. Keduanya sama-sama merupakan lembaga pendidikan, tetapi memiliki lingkungan dan pengalaman belajar yang berbeda.
K.H. Ahmad Hasyim Muzadi pernah menyampaikan sebuah gagasan yang sangat menarik tentang hal tersebut. Dalam wawancara dengan Warta Wantimpres pada 23 Juni 2016, beliau mengatakan bahwa ada perbedaan antara pesantren dan sekolah: sekolah mengajarkan ilmu pengetahuan, sedangkan pesantren mengajarkan kehidupan. Beliau juga menegaskan bahwa ilmu merupakan bagian dari kehidupan, sehingga pesantren tidak cukup hanya memiliki pengajaran, tetapi juga pendidikan dan pengasuhan. ([Wantimpres RI][1])
Pernyataan tersebut bukan berarti sekolah tidak mengajarkan karakter dan pesantren tidak mengajarkan ilmu. Justru sebaliknya, keduanya dapat dipandang sebagai dua unsur pendidikan yang saling melengkapi. Sekolah membantu seorang anak membangun dasar pengetahuan. Pesantren memberikan ruang yang lebih luas agar pengetahuan, nilai, dan kebiasaan itu dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sinilah kita dapat memahami makna “sekolah mengakarkan ilmu, pesantren mengajarkan kehidupan.”
Ilmu Adalah Bekal, Bukan Tujuan Akhir
Ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Dengan ilmu pula seseorang dapat mengembangkan kemampuan, menyelesaikan persoalan, dan menentukan pilihan dengan lebih baik. Sekolah memiliki peran besar dalam proses tersebut.
Di ruang kelas, seorang siswa belajar berbagai macam ilmu. Ia belajar bahasa, matematika, ilmu pengetahuan, teknologi, sejarah, dan berbagai bidang lainnya. Guru membantu siswa memahami materi, melatih cara berpikir, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Semua itu merupakan bekal yang sangat berharga.
Namun, ilmu seharusnya tidak hanya berhenti di kepala. Seseorang mungkin mengetahui pentingnya kedisiplinan, tetapi pengetahuan itu belum cukup apabila ia tetap terbiasa dating terlambat. Seseorang mungkin memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan kewajiban, tetapi pengetahuan tersebut belum berarti apabila ia masih membuang sampah sembarangan. Artinya, ada jarak antara mengetahui dan melakukan. Pendidikan yang baik berusaha memperkecil jarak tersebut. Ilmu perlu dihidupkan melalui kebiasaan. Pengetahuan perlu diwujudkan melalui tindakan. Nilai-nilai yang dipelajari perlu menjadi bagian dari karakter seseorang. Di sinilah pengalaman kehidupan pesantren menjadi sangat menarik untuk diperhatikan.
Pesantren: Tempat Belajar yang Tidak Berhenti Ketika Pelajaran Selesai
Di sekolah, kegiatan belajar biasanya memiliki waktu dan ruang yang jelas. Ada jam pelajaran, ada waktu istirahat, kemudian siswa kembali ke rumah. Pesantren memiliki suasana yang berbeda. Santri tidak hanya datang untuk belajar, tetapi tinggal dan menjalani kehidupan dalam lingkungan pesantren. Karena itu, proses pendidikan dapat berlangsung melalui berbagai aktivitas sehari-hari.
Ketika santri bangun pagi, ia belajar mengatur waktu. Ketika ia mengikuti kegiatan bersama, ia belajar disiplin, Ketika ia mendapatkan tugas piket, ia belajar bertanggung jawab. Ketika ia harus berbagi tempat dengan teman, ia belajar menghargai orang lain. Ketika ia harus mengikuti aturan meskipun keinginannya berbeda, ia belajar mengendalikan diri.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Akan tetapi, justru dari kebiasaan sederhana itulah karakter seseorang dibentuk. Pesantren memberikan pengalaman bahwa belajar tidak selalu berarti membuka buku dan mendengarkan penjelasan guru. Kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi ruang pembelajaran.
Seorang santri mungkin tidak menyadari bahwa ketika ia sedang membersihkan halaman, sebenarnya ia sedang belajar tentang tanggung jawab. Ketika ia menunggu giliran, ia sedang belajar tentang kesabaran. Ketika ia membantu teman, ia sedang belajar tentang kepedulian.
Pelajaran seperti itu tidak selalu memiliki nilai dalam bentuk angka. Namun, nilainya dapat terlihat bertahun-tahun kemudian dalam kehidupan seseorang.
Hidup Bersama Mengajarkan Hal yang Tidak Selalu Ada di Buku
Salah satu pengalaman penting yang diperoleh santri adalah hidup bersama orang lain.Santri datang dari berbagai daerah dan keluarga. Mereka memiliki kebiasaan, karakter, kemampuan, dan cara berpikir yang berbeda. Ketika semua dipertemukan dalam satu lingkungan, mereka harus belajar menyesuaikan diri.
Tidak selamanya hidup bersama berjalan mulus. Ada perbedaan pendapat. Ada salah paham. Ada teman yang memiliki kebiasaan berbeda. Ada pula situasi ketika seseorang harus mengalah demi kepentingan bersama. Namun, justru di situlah proses pendidikan terjadi.
Santri belajar bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang memiliki kepentingan. Ia harus memperhatikan orang lain. Ia harus belajar berbicara dengan baik, menjaga sikap, meminta maaf ketika salah, dan menerima permintaan maaf dari orang lain.
Pengalaman tersebut menjadi bekal ketika kelak ia berada di tengah masyarakat. Sebab, kehidupan masyarakat juga tidak terdiri dari orang-orang yang semuanya memiliki pemikiran sama. Kita akan bertemu dengan orang yang berbeda karakter, berbeda pendapat, dan berbeda latar belakang. Seseorang yang sejak kecil terbiasa hidup bersama dan belajar menghargai perbedaan akan memiliki modal sosial yang sangat berharga.
Kemandirian Tumbuh dari Kebiasaan
Pesantren juga mengajarkan satu hal yang sangat penting bagi masa depan seorang anak: “kemandirian”.
Ketika berada di rumah, banyak kebutuhan anak yang masih dibantu oleh orang tua. Ketika berada di pesantren, sebagian tanggung jawab tersebut mulai harus dilakukan sendiri. Santri belajar mengatur perlengkapannya. Ia belajar menjaga barang miliknya. Ia belajar mengatur waktu. Ia belajar menyelesaikan tugas. Ia belajar menghadapi persoalan tanpa selalu menunggu orang tua datang memberikan solusi.
Pada awalnya, proses tersebut mungkin tidak mudah. Ada santri yang merasa rindu rumah. Ada yang belum terbiasa dengan jadwal yang padat. Ada yang merasa kesulitan menyesuaikan diri. Namun, manusia memang sering kali tumbuh ketika berada di luar zona nyamannya.
Kesulitan yang dihadapi dengan bimbingan yang baik dapat berubah menjadi pengalaman yang membentuk ketangguhan. Seorang anak yang terbiasa menyelesaikan tanggung jawab kecil akan lebih siap ketika kelak menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, kegiatan sederhana di pesantren sebenarnya mempunyai tujuan pendidikan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Ketika Aturan Menjadi Latihan Mengendalikan Diri
Kehidupan pesantren tidak dapat dipisahkan dari aturan. Bagi sebagian orang, aturan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang pendidikan, aturan justru dapat menjadi sarana latihan untuk mengendalikan diri.
Dalam kehidupan, seseorang tidak mungkin selalu melakukan apa yang diinginkannya. Ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk beristirahat. Ada hak orang lain yang harus dihormati. Ada kewajiban yang harus diselesaikan. Ada aturan yang dibuat untuk menjaga kepentingan bersama.
Santri belajar hal tersebut melalui kehidupan sehari-hari. Ia belajar bahwa kebebasan selalu memiliki tanggung jawab. Ia belajar bahwa keinginan pribadi tidak boleh mengganggu kepentingan orang lain. Ia belajar bahwa kedisiplinan bukan hanya karena takut mendapatkan hukuman, tetapi karena memahami pentingnya keteraturan. Jika kebiasaan tersebut berhasil tertanam, ia akan menjadi bekal ketika santri kembali ke masyarakat.
Kiai dan Guru: Mengajarkan dengan Keteladanan
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam pendidikan pesantren, yaitu keteladanan. Dalam sumber resmi Wantimpres tersebut, K.H. Ahmad Hasyim Muzadi menekankan bahwa pengasuhan memiliki peran dalam membentuk kepribadian santri dan kiai berfungsi sebagai pengasuh sekaligus contoh kehidupan. ([Wantimpres RI][1])
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui materi yang disampaikan. Santri memperhatikan bagaimana gurunya berbicara. Santri melihat bagaimana kiai bersikap. Santri belajar dari cara orang yang lebih tua menghadapi persoalan, menghormati orang lain, dan menjalankan tanggung jawab.
Keteladanan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Seorang guru dapat berkali-kali mengatakan kepada santri agar disiplin. Tetapi ketika santri melihat gurunya sendiri menghargai waktu, pesan tentang disiplin menjadi lebih nyata. Seorang guru dapat menjelaskan tentang rendah hati. Namun ketika santri melihat gurunya tetap sederhana meskipun memiliki ilmu yang luas, pelajaran tersebut menjadi lebih mudah dipahami.
Karena itu, pendidikan kehidupan membutuhkan sosok yang tidak hanya pandai berbicara tentang nilai, tetapi juga berusaha menjalankannya.
Pesantren Tidak Hanya Membentuk Santri yang Tahu, tetapi Santri yang Mampu
Tujuan pendidikan bukan hanya membuat seseorang mengetahui sesuatu. Yang lebih penting adalah membuat seseorang mampu menggunakan apa yang diketahuinya.
Santri belajar tentang tanggung jawab, lalu mampu menjalankan amanah. Santri belajar tentang kebersihan, lalu mampu menjaga lingkungan. Santri belajar tentang menghormati guru, lalu mampu menerapkannya dalam sikap. Santri belajar tentang kesabaran, lalu berusaha tetap tenang ketika menghadapi masalah. Santri belajar tentang kebaikan, lalu berusaha menghadirkan kebaikan tersebut dalam kehidupan. Pada titik inilah ilmu menjadi hidup. Ilmu tidak lagi hanya berupa hafalan, tetapi berubah menjadi sikap. Pengetahuan tidak lagi hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi mulai terlihat dalam perilaku. Dan pendidikan tidak lagi hanya menghasilkan orang yang pintar, tetapi juga berusaha melahirkan manusia yang memiliki karakter.
Sekolah dan Pesantren Bukan untuk Dipertentangkan
Membicarakan perbedaan sekolah dan pesantren tidak berarti kita harus memilih salah satunya sebagai yang paling baik. Sekolah memiliki keunggulannya. Pesantren juga memiliki kekuatannya. Sekolah memberikan ruang yang luas bagi perkembangan akademik, keterampilan, dan pengetahuan. Pesantren memberikan pengalaman kehidupan yang intensif melalui pembiasaan, kebersamaan, kedisiplinan, pendidikan agama, dan pengasuhan. Keduanya justru akan menjadi lebih kuat ketika saling melengkapi.
Seorang santri membutuhkan ilmu agar mampu memahami kehidupan. Ia juga membutuhkan pengalaman dan karakter agar mampu menggunakan ilmunya dengan baik. Karena itu, pendidikan yang ideal bukanlah pendidikan yang hanya mengejar kecerdasan, tetapi pendidikan yang berusaha mempertemukan *ilmu dan akhlak, pengetahuan dan pengalaman, kecerdasan dan tanggung jawab.*
Bekal yang Dibawa Setelah Meninggalkan Pesantren
Pada suatu hari, setiap santri akan meninggalkan pesantren. Ia akan kembali kepada keluarga, melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, atau mengabdikan diri kepada masyarakat. Ketika saat itu tiba, ia tidak lagi berada dalam pengawasan guru sepanjang waktu. Tidak ada lagi ustaz yang setiap saat mengingatkan jadwal. Tidak selalu ada teman yang hidup bersamanya. Di situlah pendidikan yang telah dijalani akan diuji. Apakah ia tetap disiplin ketika tidak diawasi? Apakah ia tetap menjaga akhlak ketika tidak ada yang mengingatkan? Apakah ia tetap menghormati orang lain ketika berada di lingkungan yang berbeda? Apakah ia mampu menggunakan ilmu yang diperoleh untuk memberikan manfaat?
Jika nilai-nilai tersebut tetap hidup setelah seseorang meninggalkan pesantren, maka pendidikan telah berhasil menjadi bagian dari dirinya. Sebab, pendidikan yang sebenarnya bukan hanya terlihat ketika seseorang masih berada di lingkungan sekolah atau pesantren. Pendidikan justru terlihat ketika seseorang berada di luar lingkungan tersebut dan tetap membawa nilai-nilai baik yang telah dipelajarinya.
Penutup
Gagasan K.H. Ahmad Hasyim Muzadi tentang pesantren yang mengajarkan kehidupan mengajak kita melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas. Pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan manusia. Dalam pandangan beliau, pesantren membutuhkan pengajaran, pendidikan, dan pengasuhan agar pembentukan kepribadian santri berlangsung secara utuh. ([Wantimpres RI][1])
Sekolah mengajarkan berbagai ilmu yang menjadi bekal untuk memahami dunia. Pesantren memberikan ruang bagi santri untuk belajar bagaimana menjalani dunia tersebut dengan nilai, akhlak, tanggung jawab, dan kemandirian.
Maka, ungkapan “sekolah mengajarkan ilmu, pesantren mengajarkan kehidupan” bukanlah alasan untuk mempertentangkan keduanya. Sebaliknya, ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan keduanya: ilmu untuk mengetahui dan pengalaman untuk menjalani; pengetahuan untuk berpikir dan akhlak untuk bersikap.
Pada akhirnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang mampu mengatakan, “Saya tahu.” Pendidikan harus mampu membawa seseorang sampai pada tahap, “Saya tahu, saya mampu melakukannya, dan saya siap bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.” Barangkali di situlah letak makna pendidikan yang sesungguhnya.
Ilmu menjadi akar. Pengalaman menjadi proses tumbuh. Akhlak menjadi buahnya. Dan kehidupan menjadi tempat untuk membuktikan semuanya.
0 Komentar