Manusia kontemporer hidup dalam situasi yang semakin kompleks. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama menghadirkan persoalan baru. Krisis kesehatan mental, kecemasan, tekanan sosial, hilangnya makna hidup, serta kesulitan menemukan arah kehidupan menjadi bagian dari pengalaman manusia modern. Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, manusia bahkan dapat semakin dekat dengan teknologi tetapi semakin jauh dari dirinya sendiri. Media sosial, misalnya, memungkinkan seseorang terus terhubung dengan orang lain, tetapi juga dapat mendorong seseorang untuk terus membandingkan dirinya, mengejar pengakuan, dan membangun identitas berdasarkan penilaian eksternal. Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana manusia dapat hidup lebih mudah, tetapi bagaimana manusia dapat tetap mengenali dirinya dan menemukan makna di tengah perubahan tersebut.
Dalam konteks inilah gagasan Coaching Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf menjadi relevan. Program ini dikembangkan oleh Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama mitra perguruan tinggi Islam. Gagasan tersebut digagas oleh Dr. Heri Santoso dan dikembangkan bersama Imam Wahyudi serta Abdul Malik Usman. Menurut UGM, gagasan Jiwa Merdeka telah dirintis sejak 2019 dan kemudian dikembangkan melalui penelitian, pelatihan, coaching, serta pendampingan masyarakat. Fakultas Filsafat UGM – Pengembangan Modul Pelatihan Jiwa Merdeka.
Salah satu hal penting dari gagasan tersebut adalah pemilihan coaching sebagai metode pendampingan. Heri Santoso menjelaskan bahwa persoalan manusia masa kini tidak cukup dijawab hanya dengan penambahan pengetahuan atau pemberian solusi. Manusia membutuhkan proses yang dapat membangunkan kesadaran sehingga ia mampu menemukan potensi dan jawabannya dari dalam dirinya sendiri. Di sinilah coaching memiliki perbedaan dengan training, mentoring, konseling, maupun terapi. Training umumnya berfokus pada transfer pengetahuan dan keterampilan, sedangkan mentoring lebih banyak memanfaatkan pengalaman mentor untuk memberikan arahan. Konseling dan terapi memiliki orientasi yang berbeda karena lebih berkaitan dengan pendampingan terhadap persoalan psikologis atau kondisi tertentu. Coaching lebih menekankan proses dialog dan pertanyaan reflektif agar individu mampu menemukan pemahaman, pilihan, dan tindakan yang berasal dari kesadarannya sendiri.
Konsep tersebut kemudian diperkaya dengan filsafat dan tasawuf. Filsafat memberikan ruang bagi manusia untuk bertanya secara mendalam mengenai dirinya, kehidupan, nilai, tujuan, dan makna. Pertanyaan filosofis dapat membantu seseorang tidak sekadar menerima keadaan, tetapi berani memeriksa kembali keyakinan dan pilihan hidupnya. Sementara itu, tasawuf memberikan dimensi spiritual melalui proses pengenalan diri, pengendalian hawa nafsu, penyucian batin, dan orientasi kepada Tuhan. Dengan demikian, “jiwa merdeka” tidak dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas, melainkan sebagai kemampuan untuk tidak diperbudak oleh ego, ketakutan, ambisi, maupun tekanan eksternal.
Gagasan tersebut juga mulai memperoleh dasar penelitian. Santoso, Wahyudi, Usman, Rozi, dan Ridwan (2026) mengembangkan model Jiwa Merdeka Coaching menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Penelitian tersebut melibatkan 32 peserta yang terdiri atas guru, dosen, pimpinan sekolah atau madrasah, dan mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh peserta menilai pelatihan bermanfaat, sementara 93,7% menyatakan siap menjadi Jiwa Merdeka Coach. Analisis kualitatif juga menunjukkan adanya penguatan refleksi filosofis, kesadaran spiritual, ketenangan emosional, dan pemahaman diri. Artikel penelitian di Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah
Meski demikian, temuan tersebut masih merupakan tahap awal pengembangan model. Penilaian manfaat terutama didasarkan pada pengalaman dan persepsi peserta, sehingga belum dapat dijadikan bukti bahwa model tersebut efektif untuk seluruh populasi. Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar dan desain evaluasi yang lebih ketat tetap diperlukan.
Pada akhirnya, Coaching Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf menawarkan sebuah cara untuk melihat persoalan manusia secara lebih utuh. Manusia tidak hanya membutuhkan informasi dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan kesadaran tentang siapa dirinya, apa yang bernilai dalam hidupnya, dan ke mana ia hendak berjalan. Filsafat membantu manusia berpikir dan mempertanyakan, tasawuf membantu manusia mengolah batin, sedangkan coaching menyediakan ruang dialog agar kesadaran tersebut dapat tumbuh dari dalam diri. Di tengah dunia yang semakin cepat dan terdigitalisasi, pendekatan ini mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.

0 Komentar